Bagi mahasiswa S2, S3, maupun dosen yang sedang mengejar syarat kelulusan atau kenaikan jabatan fungsional, publikasi di jurnal internasional adalah sebuah keharusan. Namun kenyataannya, banyak yang sudah menulis artikel berkualitas tapi tetap gagal menembus jurnal internasional bukan karena artikelnya buruk, melainkan karena strategi yang kurang tepat.
Artikel ini akan membahas secara lengkap strategi dan tips praktis agar artikel ilmiahmu bisa diterima di jurnal internasional bereputasi, mulai dari yang paling mudah dijangkau seperti DOAJ, hingga yang paling bergengsi seperti Scopus.
Mengenal Tingkatan Jurnal Internasional
Sebelum menentukan target jurnal, penting untuk memahami hierarki jurnal internasional yang diakui di Indonesia:
1. DOAJ (Directory of Open Access Journals)
DOAJ adalah direktori jurnal akses terbuka yang diakui secara internasional. Jurnal yang terindeks DOAJ umumnya lebih mudah dijangkau dibanding Scopus, sehingga cocok sebagai langkah awal bagi peneliti yang baru memulai perjalanan publikasi internasional.
2. Copernicus (Index Copernicus International)
Index Copernicus adalah lembaga pengindeksan asal Polandia yang cukup diakui di kalangan akademisi Indonesia. Jurnal terindeks Copernicus dianggap setara dengan jurnal internasional bereputasi dan bisa menjadi jembatan menuju Scopus.
3. EBSCO
EBSCO adalah salah satu database jurnal internasional terbesar di dunia. Publikasi di jurnal terindeks EBSCO memberikan kredibilitas yang baik dan diakui dalam penilaian BKD (Beban Kerja Dosen).
4. Scopus
Scopus adalah puncak dari tangga publikasi internasional bagi kebanyakan akademisi Indonesia. Dikelola oleh Elsevier, Scopus membagi jurnal ke dalam empat quartile (Q1–Q4) berdasarkan impact factor dan kualitas jurnal.
Mengapa Banyak Artikel Ditolak Jurnal Internasional?
Sebelum membahas tips, penting untuk memahami alasan umum artikel ditolak:
- Scope tidak sesuai — artikel dikirim ke jurnal yang tidak relevan dengan topik penelitian
- Kualitas bahasa rendah — terutama untuk jurnal berbahasa Inggris
- Metodologi tidak jelas — reviewer tidak bisa memahami alur penelitian
- Referensi terlalu lama — mayoritas referensi lebih dari 10 tahun
- Similarity terlalu tinggi — terdeteksi plagiarisme oleh sistem jurnal
- Format tidak sesuai template — diabaikan editor sebelum masuk review
Memahami akar masalah ini adalah langkah pertama sebelum kamu memperbaiki strategi publikasimu.
Strategi Tembus Jurnal Internasional Berdasarkan Tingkatan
Langkah 1: Mulai dari DOAJ untuk Pemula
Jika kamu baru pertama kali mencoba publikasi internasional, DOAJ adalah pintu masuk yang paling tepat. Prosesnya relatif lebih ramah, biaya lebih terjangkau, dan peluang diterima lebih besar dibanding langsung mengincar Scopus.
Untuk memulai, pelajari cara publikasi jurnal DOAJ yang membahas langkah-langkah dari pemilihan jurnal, persiapan naskah, hingga proses submit yang benar.
Tips memilih jurnal DOAJ yang tepat:
- Pastikan scope jurnal sesuai bidang ilmumu
- Cek frekuensi terbit — pilih yang terbit minimal 2x setahun
- Perhatikan review time — idealnya di bawah 3 bulan
- Hindari jurnal predator yang hanya mengincar biaya APC
Langkah 2: Pahami Perbedaan DOAJ dan Scopus
Kesalahan umum peneliti adalah menyamakan standar DOAJ dengan Scopus. Keduanya memiliki karakteristik dan persyaratan yang berbeda. Sebelum menentukan target jurnalmu, penting untuk memahami perbedaan DOAJ dan Scopus secara mendalam agar tidak salah strategi.
| Aspek | DOAJ | Scopus |
|---|---|---|
| Tingkat kesulitan | Sedang | Tinggi |
| Biaya APC | Gratis – Rp 3 juta | Rp 3 juta – Rp 20 juta+ |
| Waktu review | 1–6 bulan | 3–12 bulan |
| Diakui untuk Jafung | Ya (terbatas) | Ya (penuh) |
| Bahasa | Indonesia/Inggris | Mayoritas Inggris |
Langkah 3: Naik ke Scopus dengan Strategi yang Tepat
Menembus Scopus membutuhkan persiapan yang jauh lebih matang. Berikut strategi yang terbukti efektif:
A. Pilih Jurnal Scopus yang Tepat Jangan langsung mengincar Q1 atau Q2 jika ini adalah pengalaman pertamamu di Scopus. Mulailah dari jurnal Q3 atau Q4 yang scope-nya sesuai. Kamu bisa mencari jurnal Scopus yang sesuai melalui Scimago Journal Rankings (SJR) atau laman resmi Scopus.
B. Tulis dalam Bahasa Inggris yang Baik Ini adalah hambatan terbesar bagi peneliti Indonesia. Jika perlu, gunakan jasa proofreading atau translation profesional sebelum submit. Reviewer akan langsung menolak artikel dengan grammar yang buruk.
C. Perkuat Novelty Penelitian Scopus mencari kontribusi baru pada ilmu pengetahuan. Pastikan bagian “novelty” atau kebaruan penelitianmu ditulis secara eksplisit di abstrak dan pendahuluan.
D. Gunakan Referensi Bereputasi Minimal 60–70% referensi harus berasal dari jurnal terindeks Scopus atau Web of Science. Ini menunjukkan bahwa kamu mengikuti perkembangan ilmu terkini.
Untuk panduan lengkapnya, simak cara tembus jurnal Scopus yang membahas teknik dari persiapan naskah hingga merespons komentar reviewer.
Tips Teknis yang Sering Diabaikan
Selain strategi pemilihan jurnal, ada beberapa hal teknis yang sangat menentukan keberhasilan publikasimu:
1. Cek Similarity Sebelum Submit
Pastikan similarity score naskahmu di bawah 20% (lebih baik di bawah 15%). Gunakan Turnitin, iThenticate, atau tools gratis seperti PlagScan sebelum submit.
2. Ikuti Template dengan Ketat
Setiap jurnal punya template yang berbeda — ukuran font, spasi, format referensi, jumlah kata abstrak, dll. Tidak mengikuti template adalah alasan penolakan tanpa review (desk rejection) yang paling sering terjadi.
3. Tulis Cover Letter yang Kuat
Banyak peneliti melewatkan ini. Cover letter adalah kesempatan pertamamu meyakinkan editor mengapa artikel ini layak masuk jurnalnya. Sebutkan kontribusi utama, relevansi dengan scope jurnal, dan konfirmasi bahwa artikel belum dikirim ke tempat lain.
4. Tanggapi Komentar Reviewer dengan Profesional
Jika mendapat major revision, jangan menyerah. Buat dokumen respons yang menjawab setiap komentar reviewer satu per satu dengan jelas. Editor sangat menghargai respons yang sistematis dan terperinci.
5. Hindari Submit ke Banyak Jurnal Sekaligus
Ini melanggar etika publikasi (simultaneous submission) dan bisa berakibat blacklist di banyak jurnal sekaligus.
Berapa Lama Proses Tembus Jurnal Internasional?
Tidak ada jaminan waktu yang pasti, namun rata-rata:
- DOAJ: 1–6 bulan dari submit hingga terbit
- Copernicus: 2–5 bulan
- EBSCO: 2–6 bulan
- Scopus Q3–Q4: 4–10 bulan
- Scopus Q1–Q2: 6–18 bulan
Jika kamu memiliki deadline tertentu — seperti sidang tesis atau pengajuan Jafung — rencanakan minimal 6–9 bulan di muka.
Apakah Perlu Menggunakan Jasa Pendampingan Publikasi?
Pertanyaan ini sering muncul, terutama bagi yang baru pertama kali mencoba jurnal internasional. Jawabannya: tergantung kebutuhanmu.
Jika kamu memiliki waktu cukup dan sudah familiar dengan proses review, kamu bisa mencoba secara mandiri. Namun jika kamu memiliki deadline ketat, belum berpengalaman, atau naskahmu butuh banyak perbaikan, menggunakan jasa pendampingan publikasi bisa menjadi investasi yang sangat worthwhile.
Keuntungan menggunakan jasa pendampingan:
- Naskah direvisi sesuai standar jurnal target
- Pemilihan jurnal yang tepat berdasarkan topik dan peluang accept
- Pendampingan penuh dari submit hingga artikel terbit
- Menghemat waktu dan meminimalisir risiko penolakan
Kesimpulan
Menembus jurnal internasional bukan hal yang mustahil — bahkan bisa dilakukan secara sistematis jika kamu memahami strategi yang tepat. Kuncinya adalah:
- Mulai dari tingkat yang sesuai kemampuanmu (DOAJ → Copernicus → EBSCO → Scopus)
- Pahami perbedaan dan standar masing-masing platform
- Persiapkan naskah dengan matang sebelum submit
- Bersabar dan profesional dalam merespons proses review
Jika kamu membutuhkan panduan lebih lanjut atau pendampingan dalam proses publikasi internasional, Academia Open Publisher siap membantu dari awal hingga artikel kamu berhasil terbit.
Kunjungi academiaopenpublisher.com dan konsultasikan kebutuhanmu sekarang — tim kami siap mendampingi perjalanan akademikmu.





